Rabu, 14 September 2011

FF -star-


Cast : Choi Rae Kyung
Lee Dong Hae
Genre : Romance fail
Authot : Lee Dong Hae’s Wife

“…tak ada yang bisa menggantikanmu dihatiku, bukan karena tak ada yang lebih baik darimu, tapi karena tak ada yang bisa menempati ruang hatiku selain dirimu…”

oppa… tunggu aku…” aku berlari mengejar Lee Dong Hae. Tubuhnya yang tinggi tegap wajah tampan lengkap dengan senyum menawan dan eye smile yang membuat semua yeoja akan jatuh cinta padanya. Walau aku sudah berlari tetap saja sulit untuk mengejarnya, ketika aku sampai disampingnya pasti sebuah ejekan yang sangat membosankan untukku, karena tiap hari kata-kata itu keluar dari bibir tipisnya.
dasar bonsai, makanya olahraga minum susu biar tambah tinggi, dari dulu kau masih seperti itu saja. Tinggimu saja tak sampai pundakku” itulah kata-kata tiap hari yang aku dengar. Tapi walau kata-kata itu kadang menyakitkan tapi tetap saja aku merindukanya. Jujur aku sudah mencintai Lee Dong Hae sejak kecil, aku rasa sejak kami bertemu pertama kali sebagai tetangga baru sekitar 10 tahun lalu.
oppa kenapa kau selalu meninggalku dan membiarkan aku berlari untuk mengejarmu? Aku ini yeoja, oppa tidak kasian jika aku pingsan gara-gara mengejarmu” kataku sambil masih terengah-engah.
kau mau tau alasanku Rae Kyung?” Dong Hae berbalik tanya dengan wajah inouncent
Nhe, Wae?”
Donghae mendekatkan wajahnya dengan sedikit membungkuk dan membisikan di telingaku dengan lembut.
Agar, kau tambah tinggi dan kurus, lihat pipimu seperti bakpao” katanya sambil mencubit pipiku, dan dengan cepat dia lari.
Opppaaaaaaaa….. jangan lariiiiiiii” aku yang merasa tersinggung segera mengejarnya sampai kami didepan gerbang sekolah.
Yah, Lee Dong Hae dia memang kakak kelasku sekaligus namja chinguku. Mungkin satu sekolah tidak tau kalau kami berpacaran karena Dong Hae memintaku untuk tidak bilang kepada siapapun teman disekolah kalau kami berpacaran, karena katanya itu demi kebaikanku. Dong Hae memang seorang namja yang sangat digilai para yeoja entah kelas 3 ataupun para hoobe- hoobe disekolahan kami, Dong Hae takut jika aku disakiti oleh sunbae kelas 3 yang mengejar-ngejarnya. Jadi jika Dong Hae dikerumuni oleh para yeoja-yeoja cantik aku hanya bisa bersabar dan aku selalu menguatkan dengan kata-kata andalanku “Sayangnya DongHae yang tampan itu adalah miliku”
Sepulang sekolah kami berniat untuk bermain dulu di dekat danau kecil tempat kami biasanya bermain saat kecil sampai sekarang. Kami berdua duduk dibawah sebuah pohon didekat bibir danau. Kuletakkan kepalaku dipundaknya.
Rae Kyung ah…jika aku nanti pergi apakah kau akan setia menungguku?” Dong Hae membuka pembicaraan yang membuat sedikit kaget dan mengangkat kepalaku dari pundaknya dan kualihkan pandanganku ke wajahnya.
Wae oppa? Oppa mau pergi meninggalkanku?” tanyaku balik dengan wajah cemas.
Kemarin malam appa dan umma ku bilang bahwa kami akan pindah ke Jepang minggu depan, appaku pindah kerja disana karena perusahaan cabang Jepang sedang mengalami sedikit masalah dan otomatis semua keluargaku akan ikut kesana” jelasnya
Aku tak bisa berkata apapun rasanya lidahku kelu untuk berkata walau hanya sepatah saja setelah mendengar penjelasan bintang hatiku. Mataku terasa panas dan butiran-butiran air mata yang aku tahan turun tanpa komando membasahi pipi tembam yang selalu dicubitnya.
Chagiya… jangan menangis… karena itu akan membuatku semakin berat untuk meninggalkanmu. Aku berjanji saat aku kembali ke korea kau adalah orang pertama yang akan aku temui” ucapnya sembari mengusap air mataku. Direnguhnya tubuh kecilku kedalam pelukanya, bukanya aku semakin tenang tapi tangisku semakin menjadi-jadi.

Hari ini tepat hari keberangkatan Dong Hae, aku mengantarnya sampai bandara, tak satu patah katapun yang aku ucapkan saat dirinya memelukku untuk terakhir kalinya sebelum ke Jepang.
Saranghaeyo… I will back to your hug again. Jaga dirimu baik-baik chagi…”

----One year ago---
Kini aku sudah masuk universitas, aku sangat merindukan ejekanya tiap berangkat sekolah sudah satu tahun aku tak mendengarkan tawanya, melihat senyum manisnya dan cubitan dipipiku darinya. Ingin aku katakana padanya aku sekarang sudah bertambah tinggi aku sudah tak berpipi tembam seperti dulu. Tapi mungkin sulit bagiku untuk memberitahunya.
Oppa, jheongmal bogoshippo…” aku termenung sendiri di tepi danau tempat biasa kami bersama. Aku melihat pahon yang biasa kami tempati sudah sedikit berubah, banyak rumput-rumput yang tumbuh dibawahnya, mungkin karena sudah entah berapa tahun aku tak kesini. Aku berjalan menuju bawah pohon itu dan duduk dibawahnya sambil bersandar pada batangnya yang masih kokoh, aku pejamkan mataku merasakan semilir angin yang menerbangkan anak rambutku sambil mengingat saat-saat indah bersama Lee Dong Hae. Dan tak butuh waktu yang lama aku sudah terlelap dalam tidur.
Hoooaaaammpppp” aku bangun sambil menguap mataku masih terpejam , betapa kagetnya aku setelah membuka mata dan mengetahui diriku sudah tidur diatas ranjangku dan kulihat seseorang yang sangat aku kenal duduk ditepi ranjangku.
Oppa? Ah tidak mungkin…pasti aku bermimpi” aku ambil segelas air yang ada di meja dekat ranjangku dan aku siramkan kepada namja yang sedari tadi hanya tersenyum melihatku.
HYAAAAAA…CHOI RAE KYUNG apa yang kau lakukan? Apa ini caramu menyambut bintangmu?” teriaknya dengan sedikit marah.
Oh Tuhan.. jika ini mimpi cepat bangunkan aku sebelum aku benar-benar gila karena mimpi ini” aku masih belum percaya dengan namja yang ada didepanku.
Beda dengan yang tadi, namja itu langsung menarikku kepelukanya.
Rae Kyung ah jheongmal bogoshippo” bisiknya ditelingaku. “kau tak bermimpi, ini aku Lee Dong Hae, bintang hatimu yang sekarang sudah kembali pulang ketempat yang harusnya dia berada”
pulang? Bukankah….” Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku Dong Hae sudah menyambar duluan.
iyaaa, sekarang aku sudah pulang kepelukanmu kembali ke hatimu BONSAI” katanya sambil menekan pada kata bonsai.
Hyaaaa oppa..aku bukan bonsai, tarik segera kata-katamu atau….” Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku dia sudah lari keluar kamar.
dasar bonsai cubby….bonsai..bonsai…” dia berlalu dan terus mengejeku.
Ingin aku mengejarnya tapi rasanya berat, mungkin karena aku terlalu bahagia, dan tanpa terasa air mataku keluar otomatis tanpa komando. Aku terus menangis belum percaya kalau ini adalah nyata. Dong Hae kembali kekamarku lagi.
wahhh ternyata sekarang bintang kecilku bukan hanya bonsai cubby tapi juga CEEENGGENG yaa…”
Ejekanya yang kedua ini benar-benar membuatku ingin segra membunuhnya.
HYAAA LEE DONG HAEEEEEE…. Awas KAuuuuu!!!” aku segera bangkit dan mengejarnya dan akhirnya aku mendapatkanya, aku pukul-pukul pundaknya hingga dia mengaduh kesakitan. Dan kami terus bercanda sekan umur kami baru 13 tahun.

Rae Kyung ah…” kuangkat kepalau dari pundaknya ketika dia memanggil namaku.
apa kau tahu?” tanyanyan menggantung
wae?”
tapi kau tak boleh marah ataupun memukulku seperti tadi. Karena badanku rasanya sudah mau remuk gara-gara pukulanmu seperti pukullan chruck Norris. Yaksok?”
nhe, wae?” aku dan dia mengaitkan jari kelingking tanda aku sudah berjanji padanya.
selain kau bonsai, chubby, dan cengeng ternyata kau sangat gemuk”
Aku mengangkat tanganku segera memukul kepalanya tapi buru-buru Dong Hae menahanya.
kau sudah janji tak akan memukulku kan? Sekarang aku akan melanjutkan ceritaku . kau sekarang tambah gendut tadi sja waktu aku menggendongmu pulang kau sangat berat sekali, pinggangku sampai sakit gara-gara menggendongmu” ceritanya panjang lebar. Aku yang mendengar sebenarnya sangat sebal tp juga kasiahan karena sudah mengendongku dari danau sampai kamarku. Entah kenapa tapi tiba-tiba aku mencium pipi kanannya. Mungkin Dong Hae sangat terkejut karena selama kami pacaran paling aku hanya menggaandeng tanganya saja. Dong Hae hanya senyam senyum.
Cuma cium pipi kanan itu tak akan membuat capekku hilang dan rasa sakit akhibat pukulanmu itu sembuh, bagaimana kalau ini” ucap donghae sambil menunjuk bibirnya.
Oh.. oppa mau itu? Tapi ada syaratnya, oppa harus tutup mata” kataku santai sambil menyungging senyum licik.
Okey..” Dong Hae pun memejamkan matanya dan dengan cepat aku toyor kepalanya.
enakk aja,,,, tuh minta saja sama ikan di danau” aku pergi sambil menjulurkan lidahku.
Hari sudah sore kami menghabiskan hari bersama bercanta tertawa bersama melepaskan rindu dipinggir danau.

---END---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar